Subscribe:

Selasa, 03 Mei 2011

Makalah sejarah pendidikan islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah
Perkembangan pendidikan islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern. Lembaga pendidikan islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya.
Perkembangan lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah menarik perhatian para ahli baik dari dalam maupun luar negeri untuk melakukan studi ilmiah secara komprehensif. Kini sudah banyak hasil karya penelitian para ahli yang menginformasikan tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan islam tersebut. Tujuannya selain untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang bernuansa keislaman juga sebagai bahan rujukan dan perbandingan bagi para pengelola pendidikan islam pada masa-masa berikutnya.
Sebelum kita mengkaji lebih jauh tentang perkembangan pendidikan islam di Indonesia, pantasnya kita mengkaji tentang sejarah masuknya islam di Indonesia dan pendidikan pada masa permulaan. Di sini pemakalah berusaha memaparkan tentang sejarah masuknya islam di indonesia dan pendidikan islam pada masa permulaan sebagai awal dari perjalanan untuk mengkaji lebih jauh tentang perkembangan pendidikan islam di Indonesia.
B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana proses awal masuknya islam di Indonesia?
2.                  Bagaimana keadaan pendidikan islam pada masa permulaan?

C.    Tujuan masalah
1.      Agar mahasiswa mengetahui bagaimana proses awal masuknya islam di Indonesia
2.      Agar mahasiswa mengetahui bagaimana keadaan pendidikan islam pada masa permulaan





BAB II
PEMBAHASAN
A. Masuknya islam di Indonesia
Sejak awal pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad Masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia tenggara.[1] Wilayah barat Nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara cina dan india. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di jawa dan Sumatra untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting disumatra dan jawa antara abad I dan ke VII M sering disinggahi pedagang asing seperti, lamuri (Aceh), barus dan Palembang di Sumatra, (sunda kelapa dan gresik di jawa).[2]
Pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia, dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang, sejak Abad ke- 7 M (Abad I H), ketika islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka jauh sebelum ditaklukkan portugis (1551), merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting.[3]
Ada induksi bahawa kapal-kapal Cina pun mengikuti jalan tersebut sesudah abad-9 M, tetapi tidak lama kemudian kapal-kapal tersebut hanya sampai dipantai Barat India karena barang-barang yang diperlukan sudah dapat dibeli disini. Kapal-kapal Indonesia juga mengambil bagian dalam perjalanan niaga tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagang Nusantara mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai Timur Afrika.
Menurut J.C van leur. Berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di Barat Laut Sumatra yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal.[4] Dari berita Cina bisa diketahui bahwa dimasa Dinasti Tang (abad ke 9-10) orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan Timur mungki8n disebabkan oleh kegiatan kerajaan islam dibawah Bani Umayyah di bagian Barat dan kerajaan sriwijaya di asia Tenggara. Akan tetapi menurut Taufik Abdullah. Belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu beragama islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang paling bias dipertanggungjawabkan, ialah para pedagang arab tersebut hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran.[5] Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang muslim itu.
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.
Islam masuk di Indonesia melalui berbagai cara.
1.      Jalur perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan orang Arab Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama Islam.
2.      Cultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya. Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3.      Pendidikan
 Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
4.      Kekuasaan politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.[6]
Bukti-bukti awal proses penyebaran agama Islam dapat kita temukan
dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk tulisan, catatan perjalanan dari
bangsa asing, maupun bukti-bukti fisik berupa batu nisan. Beberapa berita
dari bangsa asing yang menunjukkan awal Islamisasi di Indonesia antara lain:
a.       Hikayat Dinasti Tang di Cina. Hikayat ini mencatat, terdapat orangorang
Ta Shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan
Ho Ling yang diperintah oleh Ratu Sima (675 M) Ta Shih ditafsirkan
oleh para ahli yaitu bangsa Arab. Berdasarkan hikayat ini dapat disimpulkan
bahwa Islam datang ke Indonesia bukan pada abad ke-12 M, melainkan
pada abad ke-7 M dan berasal dari Arab langsung, bukan dari Gujarat
India.
b.      ‘Aja’ib Al Hind , yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh Buzurg bin
Shahriyar sekitar tahun 390 H/1000 M berbahasa Persia. Mencatat
adanya kunjungan pedagang muslim ke kerajaan Zabaj. Setiap orang
muslim, baik pendatang maupun lokal, ketika datang ke kerajaan ini
harus bersila . Kitab ini mengisyaratkan adanya komunitas muslim lokal
pada masa kerajaan Sriwijaya. Kata Zabaj diidentikan dengan kata
Sriwijaya.
c.       Marcopolo seorang pedagang dari Vene ia yang melakukan perjalanan
pulang dari Cina menuju Persia, sempat singgah di Perlak pada tahun
1292. Menurutnya, Perlak merupakan kota Islam, sedangkan dua tempat
di dekatnya, yang disebutnya Basma dan Samara bukanlah kota Islam.
Di Perlak (Peureula) ia menjumpai penduduk yang memeluk Islam, dan
juga banyak pedagang Islam dari India yang giat menyebarkan Islam.
d.      Ibn Batutah seorang musafir dari Maroko, dalam perjalanannya ke dan
dari India pada tahun 1345 dan 1346, singgah di Samudera. Di sini
ia mendapati bahwa penguasanya adalah seorang pengikut ma hab Syafi i.
Hal ini menegaskan bahwa keberadaan ma hab ini sudah berlangsung
sejak lama, yang kelak akan mendominasi Indonesia, walaupun ada
kemungkinan bahwa ketiga ma hab Sunni lainnya (Hanafi, Maliki, dan
Hambali) juga sudah ada pada masa-masa awal berkembangnya Islam.
Bukti-bukti fisik atau artefak yang menunjukkan awal Islamisasi di Indonesia
yaitu antara lain:
a.       Batu nisan bertuliskan huruf Arab ditemukan di Leran, Gresik. Batu nisan
ini memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama
Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475 Hijriah (1082 M).
b.      Di Sumatra (di pantai timur laut Aceh utara) ditemukan batu nisan Sultan
Malik al-saleh yang berangka tahun 696 Hijriah (1297 M).
c.       Serangkaian batu nisan yang sangat penting ditemukan di kuburan-kuburan
di Jawa Timur, yaitu di Trowulan dan Troloyo, dekat situs istana Majapahit.
Batu nisan itu menunjukkan makam-makam orang muslim, namun lebih
banyak menggunakan angka tahun Saka India dengan angka Jawa Kuno
daripada tahun Hijriah dan angka Arab. Batu nisan yang pertama ditemukan
di Trowulan memuat angka tahun 1290 Saka (1368-1369 M). Di Troloyo
ada batu-batu nisan yang berangka tahun antara 1298 1533 Saka
(1376 1611 M). Batu-batu nisan ini memuat ayat-ayat Al-Qur an.
d.      Sebuah batu nisan muslim kuno yang bertarikh 822 H (1419 M) ditemukan
di Gresik (Jawa Timur). Batu nisan ini menjadi tanda makam Syekh
Maulana Malik Ibrahim. Bentuk batu nisan makam Maulana Malik
Ibrahim (822 H/1419M), di Gresik Jawa Timur, memiliki kesamaan dengan
bentuk batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat India. Diperkirakan
batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat ke Wilayah Nusantara yang
beriringan dengan penyebaran Islam.[7]
Beberapa faktor yang mempermudah perkembangan Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut.
a.        Dalam ajaran agama Islam tidak dikenal adanya perbedaan golongan dalam masyarakat. Masyarakat mempunyai kedudukan yang sama sebagai Hamba Allah. Walaupun demikian, ajaran agama Islam kurang meresap di kalangan Istana, hal ini dibuktikan dengan masih adanya praktek-praktek feodalisme khususnya di lingkungan keraton Jawa.
b.       Agama Islam cocok dengan jiwa pedagang. Dengan memeluk Islam maka hubungan di antara para pedagang semakin bertambah erat, sesuai dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa setiap orang itu bersaudara. 
c.       Sifat bangsa Indonesia yang ramah tamah memberi peluang untuk bergaul lebih erat dengan bangsa lain. Dengan pendekatan yang tepat, maka bangsa Indonesia dengan mudah dapat menerima ajaran agama Islam.
d.      Islam dikembangkan dengan cara damai. Pendekatan secara damai akan lebih berhasil dibandingkan secara paksa dan kekerasan.

B.  Pendidikan islam pada masa permulaan
Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan. Da’wah bil hal atau keteladanan. Pada konteks ini mempunyai pengaruh besar dalam menarik perhatian dan minat seseorang untuk mengkaji atau memeluk ajaran Islam. Selanjutnya, ketika agama ini kian berkembang, system pendidikan pun mulai berkembang :
a.       System pendidikan langgar
Di tiap-tiap desa yang penduduknya telah menjadi muslim umumnya didirikan langgar atau masjid. Fasilitas tersebut bukan hanya sebagai tempat shalat saja, melainkan juga tempat untuk belajar membaca al-Qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan yang bersifat elementer lainnya. Pendidikan di langgar di mulai dari mempelajari abjad huruf Arab (hijaiyah) atau kadang-kadang langsung mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibaca dari kitab suci al-qur;an.pendidikan di langgar di kelolah oleh seorang petugas yang disebut amil, modil, atau lebai (di sumatera) yang mempunyai tugas ganda, disamping memberikan do’a pada waktu upacara keluarga atau desa, juga berfungsi sebagai guru. Pelajaran biasanya diberikan pada tiap pagi atau petang hari, satu sampai dua jam. Pelajaran memakan waktu selama beberapa bulan, tetapi pada umumnya sekitar satu tahun.[8]
Metode pembelajaran adalah murid duduk bersila dan guru pun duduk bersila dan murid belajar pada guru seorang demi seorang. Satu hal yang masih belum dilaksanakan pada pengajaran al-qur’an di langgar, dan ini merupakan kekurangannya adalah tidak diajarkannya menulis huruf  Al-qur’an (huruf arab), dengan demikian yang ingin dicapainhanya membaca semata. Padahal menurut metode baru dalam pengajaran menulis, seperti halnya yang dikembangkan sekarang dengan metode iqra’, dimana tidak hanya kemampuan membaca yang ditekankan, akan tetapi dituntut juga penguasaan si anak di dalam menulis. [9]
Pengajaran al-qur’an pada pendidikan langgar dibedakan kepada dua macam, yaitu :
a)      Tingkatan rendah : merupakan tingkatan pemula, yaitu mulainya mengenal huruf al-qur’an sampai bias membacanya, diadakan pada tiap-tiap kampong, dan anak-anak hanya belajar pada malam hari dan pagi hari sesudah sholat shubuh
b)      Tingkatan atas, pelajarannya selain tersebut diatas, ditambah lagi pelajaran lagu, qasidah, berzanji, tajwid serta mengaji kitab perukunan.[10]
Adapun tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar adalah agar anak didik dapat membaca al-qur’an dengan berirama dan baik, tidak dirasakan keperluan untuk memahami isinya.
Mereka yang kemudian berkeinginan melanjutkan pendidikannya setelah memperoleh bekal cukup dari langgar/masjid di kampungnya, dapat masuk ke pondok pesantren.
b.      System Pendidikan Pesantren
Secara tradisional, sebuah pesantren identik dengan kyai (guru/pengasuh), santri (murid), masjid, pemondokan (asrama) dan kitab kuning (referensi atau diktat ajar). Sistem pembelajaran relatif serupa dengan sistem di langgar/masjid, hanya saja materinya kini kian berbobot dan beragam, seperti bahasa dan sastra Arab, tafsir, hadits, fikih, ilmu kalam, tasawuf, tarikh dan lainnya. Di pesantren, seorang santri memang dididik agar dapat menjadi seorang yang pandai (alim) di bidang agama Islam dan selanjutnya dapat menjadi pendakwah atau guru di tengah-tengah masyarakatnya.
Tujuan terbentuknya pondok pesantren adalah :
a.       Tujuan umum 
Membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya
b.      Tujuan khusus
Mempersiapkan satri untuk menjadi orang yang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat. [11]
Pesantren merupakan pranata pendidikan tradisional yang di pimpin oleh kiai atau ulama’. Di pesantren inilah para santri dihadapkan dengan berbagai cabang ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab kuning. Pemahaman dan penghafalan terhadap al-qur’an dan hadits merupakan syarat mutlak bagi para santri. [12]
Di dalam komplek pesantren terdapat tempat kediaman para guru beserta keluarganya dengan semua fasilitas rumah tangga dan tidak ketinggalan masjid yang dipelihara bersama. Pendidikan dan pengajaran di langgar dan pesantren terdapat di jawa. Di sumatera terdapat penggabungan antara dua system tersebut. Pesantren di jawa dapat di pisahkan menjadi 5 elemen dasar, yaitu: Pondok, Masjid, Kiai, dan pengajaran buku-buku Islam Klasik.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang termasuk tertua, sejarah perkembangan pondok pesantren memiliki model-modelyang bersifat nonklasik, yaitu model system pendidikan dengan metode pengajaran wethonan dan sorogan. Di jawa barat, metode tersebut diistilahkan dengan “Bendongan”, sedangkan di sumatera digunakan istilah halaqoh.[13]
a.       Metode Wetonan (Halaqoh)
Metode yang didalamnya terdapat seorang kiai yang membacakan suatu kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kiai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengajar secara kolektif.[14]
b.      Metode Sorogan
Metode yang santrinya cukup pandai men “sorog” kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca dihadapannya, kesalahan dalam bacaannya itu langsung dibenarkan oleh kiai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengajar individual.[15]
            Dan sebagai karakteristik khusus dalam pondok pesantren adalah isi kurikulum yang dinuat terfokus padalima agama, misalnya ilmu sintaksis Arab, Morfologi, Hadits, Tafsir, Al-qur’an, Theology Islam, Tasawwuf, Tarikh dan Retorika.[16]
Dengan system pondok pesantren tumbuh dan berkembang di mana-mana, yang ternyata mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha mempertahankan eksistensi umat islam dari serangan dan penindasan fisik dan mental kaum penjajah beberapa abad lamanya. Pesantren yang pada mulanya berlangsung secara sederhana, ternyata cukup berperan dan banyak mewarnai perjalanan Sejarah pendidikan islam Di Indonesia, serta banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal.
Ketika kekuasaan politik Islam semakin kokoh dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam, pendidikan semakin meroleh perhatian. Contoh paling menarik untuk disebutkan adalah sistem pendidikan Islam yang tampak telah terstruktur dan berjenjang di kerajaan Aceh Darussalam (1511-1874). Secara formal, kerajaan ini membentuk beberapa lembaga yang membidangi masalah pendidikan dan ilmu pengetahuan, yaitu:
1.       Balai Seutia Hukama (lembaga ilmu pengetahuan)
2.       Balai Seutia Ulama (jawatan pendidikan dan pengajaran)
3.       Balai Jamaah Himpunan Ulama (kelompok studi para ulama dan sarjana pemerhati pendidikan).
 Adapun jenjang pendidikannya dapat disebutkan sebagai berikut:
1.       Meunasah (madrasah), berada di tiap kampung. Disini diajarkan materi elementer seperti: menulis dan membaca huruf hijaiyah, dasar-dasar agama, akhlak, sejarah Islam dan bahasa Jawi/Melayu
2.      Rangkang (setingkat MTs), berada di setiap mukim. Disini diajarkan Bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung (hisab), akhlak, fikih dan lain-lain
3.       Dayah (setingkat MA), berada di setiap ulebalang. Materi pelajarannya meliputi: fikih, Bahasa Arab, tawhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/tata negara, ilmu pasti dan faraid
4.       Dayah Teuku Cik (setingkat perguruan tinggi atau akademi), yang di samping mengajarkan materi-materi serupa dengan Dayah tetapi bobotnya berbeda, diajarkan pula ilmu mantiq, ilmu falaq dan filsafat.[17]
     Sultan Mahdum Alauddin Muhammad Amin ketika memerintah kerajaan Perlak (1243-1267 M) disebutkan pernah mendirikan majelis ta’lim tinggi, semacam lembaga pendidikan tinggi yang dihadiri oleh para murid yang sudah mendalam ilmunya untuk mengkaji beberapa kitab besar semacam al-Umm karangan Imam Syafi’i. Pembiayaan pendidikan pada masa- tersebut berasal dari kerajaan. Tetapi perlu dicatat disini bahwa hal ini sangat tergantung pada kondisi kerajaan dan faktor siapa yang sedang menjadi raja.

















BAB III
KESIMPULAN
Islam masuk di Indonesia melalui berbagai cara.
1.      Jalur perdagangan
2.      Cultural
3.      Pendidikan
4.      Kekuasaan politik
Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan. Da’wah bil hal atau keteladanan. Selanjutnya, ketika agama ini kian berkembang, di tiap-tiap desa yang penduduknya telah menjadi muslim umumnya didirikan langgar atau masjid. Fasilitas tersebut bukan hanya sebagai tempat shalat saja, melainkan juga tempat untuk belajar membaca al-Qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan yang bersifat elementer lainnya.
Dan pada saat kekuasaan politik Islam semakin kokoh dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam, pendidikan semakin meroleh perhatian. Contoh paling menarik untuk disebutkan adalah sistem pendidikan Islam yang tampak telah terstruktur dan berjenjang di kerajaan.

















DAFTAR PUSTAKA
J. C. van leur, Indonesia Trade and Society, bandung : Sumur Bandung, 1960,
Poeponegoro, marwati djoned  dan Notosusanto Nugroho (Ed), sejarah nasional Indonesia II, Jakarta:balai Pustaka, 1984
Abdullah, Taufik , sejarah umat islam Indonesia, Jakarta : majelis ulama Indonesia, 1991.
Tjandrasasmita Uka, sejarah nasional Indonesia III, Jakarta : PN Balai Pustaka, 1984.
Aziz Mashuri A, pokok Pikiran Pengembangan Pengkajian Kitab:majalah Tebuireng ,1989
Hasbullah , Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintasan Sejarah dan pertumbuhan Islam: PT. Grafindo Persada: Jakarta, 1999
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia: Hidakarya Agung: Jakarta, 1985
Tim Depag RI, pedoman pembinaan Pondok Pesantren: Dirjen Bimas Islam: Jakarta, 1983
Zuhairin, Sejarah pendidikan Islam: Bumi Aksara, 1992
Rochidin wahab FZh, Sejarah  Pendidikan Islam di Indonesia: bandung: Alfabeta, 2004
Amir Hamzah, pembaharuan Pendidikan Islam dan Umum: bumi aksara : jkakarta, 1989



















SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA DAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA PERMULAAN
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah 
“sejarah pendidikan Islam”










Oleh:
ALIYAH ILMIATUR RIZA                        D07208074
AVINA NAILUL IZZA                    D07208075
                           
Dosen pembimbing:
                                                            Drs. H. Munawir, M. Ag.




PRODI S-1 PGMI
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2011





KATA PENGANTAR

               Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rosulullah Saw, kami bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua, sehingga makalah “sejarah masuknya islam di Indonesia dan pendidikan islam pada masa permulaan dapat kami selesaikan. Kami sampaikan juga ucapan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam penyelesaian makalah ini, dan tak lupa kepada dosen pembimbing mata kuliah Drs. H. Munawir, M. Ag.
               Makalah ini Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah pendidikan Islam. Makalah ini menjelaskan tentang sejarah masuknya islam di Indonesia dan kondisi pendidikan pada masa permulaan.
               Kami menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami sebagai penulis mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya.
               Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, kami berharap semoga makalah kami ini bermanfaat bagi para mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, serta bagi kami sebagai penulisnya khususnya. 


Surabaya, 28 Oktober 2011


Penuli















DAFTAR ISI

    Kata Pengantar
    Daftar Isi
    BAB I      PENDAHULUAN
A.Latar belakang
B.Rumusan masalah
      C.Tujuan masalah
    BAB  II    PEMBAHASAN
A.    Sejarah masuknya Islam di Indonesia
B.     Pendidikan pada masa permulaan 

   BAB  III  PENUTUP
Kesimpulan
   DAFTAR PUSTAKA







[1]  Marwati djoned poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (Ed), sejarah nasional Indonesia II, (Jakarta:balai Pustaka, 1984), hlm 2.
[2]  Taufik Abdullah (Ed.), sejarah umat islam Indonesia, (Jakarta : majelis ulama Indonesia, 1991), hlm.34.
[3]  Uka Tjandrasasmita (Ed.), sejarah nasional Indonesia III, (Jakarta : PN Balai Pustaka, 1984), hlm.122.
[4]  J. C. van leur, Indonesia Trade and Society, (bandung : Sumur Bandung, 1960), hlm. 91. 
[5]  Taufik Abdullah, op. cit.,hlm.35.
[6]  http://saef-jaza.blogspot.com/2008/12/perkembangan-islam-di-indonesia.html

[8][8][8] Hasbullah, sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, lintas sejarah dan pertumbuhan islam, (PT.grafindo Persada: Jakarta, 1999 ) halm, 21-22
[9] Ibid halm,22
[10] Mahmud Yunus, sejarah pendidikan Islam Di Indonesia, (Hidakarya agung: Jakarta, 1985) hlm, 35
[11] Arifin HM, kapita selecta Pendidikan Islam dan Umum, (Bumi Aksara: Jakarta,1991) halm.248
[12] Imam Al-Fatta, modernisasi Pesantren dan Krisis Ulama: Panjimas nomor 667 Maret 1991.
[13] Tim depag RI, pedoman Pembaharuan Pondok Pesantren, (Dirjen Bimas Islam,:Jakarta, 1983) halm,8
[14] Aziz Masyhuri A, Pokok Pikiran Pengembangan Pengkajian Kitab, (majalah Tebuireng, 1989).
[15] Amir Hamzah, pembaharuan pendidikan dan Pengajaran islam, (Mulia Ofset, Jakarta, 1989) halm.26
[16] Ibid halm236
[17]  http://peziarah.wordpress.com/2007/02/05/pendidikan-di-zaman-permulaan-islam/

0 komentar:

Poskan Komentar